Akeda Bagus

Code wrangler

badbeef — 26 February 2019
Command as a Service (cas) — 25 February 2019

Command as a Service (cas)

I just published cas to GitHub. It allows you to execute commands in your server via HTTP.  Commands to execute are defined in YAML config file. The README on GitHub should give you an idea how to use it. Why cas? Well, why not. I need a way for my shell scripts HTTP-exposed so my other projects could utilize them. Most of the time, I started PoC for scraping and parsing with shell scripts.

Simply define and run your flows in browser with simflow — 24 December 2018

Simply define and run your flows in browser with simflow

Most of the time I ended up repeating some flows when interacting with browser. If you’re tired of this, give simflow a try. It’s a CLI tool to define and run your flows with Chrome. Common repeated flows can be something like:

  • Go to internet banking site to download account statement each month.
  • Search image of cat and download them.
  • Test new feature / bug fix in a web project which involves repeated steps (log in, go to blahblahblah, click this, take a screenshot, etc).

With simflow, I define my own flows in JSON config file. Under the hood, it uses puppeteer to drive the browser. But with simflow, you don’t need to code anything. Steps defined in a flow can be as simple as:

[
  "Goto /search",
  "See searchField",
  "Type in searchField cats",
  "Click searchButton"
]

Once defined, run it:

simflow -c config.json

To find out more, see its GH project.

Guitar Solo Livin’ on a Prayer – Bon Jovi — 11 February 2018
Guitar Solo Broken Heart – White Lion —
Guitar Solo Shine – Collective Soul — 14 January 2018
Guitar Solo Two Princes – Spin Doctors —
Bali GEO — 26 April 2017
My talk at WordCamp Ubud 2017 — 22 April 2017
Damn you Waze! — 16 April 2017

Damn you Waze!

Kemarin malam, saya dan dua teman saya (Tato dan Kumiz) pergi ke Cilodong. Mampir ke kedai kopi milik Yogi. Selesai ngobrol ngarul ngidul dengan Yogi, kami berpamitan dan hendak mampir ke kedai kopi lainnya, Qimung. Tepatnya di GDC. Onay memberikan lokasi di Waze. Kita bertiga tidak ada yang mengenal medan ke Qimung. Okay, kita ikutin rute di Waze. Damn! I was wrong for trusting Waze! Jalan tikus yang kita lalui. Kita melewati jalur yang sangat sempit dan hanya bisa dilewati satu mobil. Saat itu sudah gelap. Kanan dan kiri adalah pohon bambu. Jika Anda pernah menonton film Jelankung dimana ada adegan melewati jalan sempit, sepi, dan tak berujung. Itulah yang Tato bayangkan. Cukup panjang jalan tikus ini. Kami berharap ada cahaya dari lampu motor yang lewat. Tapi itu hanya harapan sirna dibalik ketatukan. Antara begal atau…

Jika bertemu hal itu, saya sudah membayangkan putar balik mobil yang tidak memungkinkan. Tak berapa lama kita dihapapkan dengan persimpangan. Lurus buntu, atau belok kiri dengan jalan yang tambah sempit. Waze mengarahkan ke kiri. Humm. Suasana semakin mencekam. Rumah tidak terlihat. Pohon bambu di kanan dan kiri. Sampah-sampah mulai terlihat. Hingga, kita melihat plang besar di ujung bertuliskan huruf besar semua. Tulisannya “DEMI ALLAH…” Bulu kuduk saya langsung merinding. Kita semua merujuk ke plang. Saya langsung berpikir, tanpa membaca tulisan di bawahnya, “DEMI ALLAH JANGAN LEWAT SINI!!”. Apakah ini jalan terlarang? Atau?

Tulisan lengkapnya ternyata “DEMI ALLAH YANG BUANG SAMPAH DISINI…”. Fiuh. Setelah melalui jalan horor itu akhirnya terlihat perumahan di sebelah kiri jalan dan kita selamat melewati jalan mengerikan tersebut dan alhamdulillah bukan jalan pintas menuju Gadog, Puncak. Lesson learned. Never trust Waze!