Author: Akeda Bagus

  • My talk at WordCamp Ubud 2017

    I gave a talk about end-to-end test at WordCamp Ubud 2017. Slides at http://gedex.web.id/wc-ubud-2017/. This was my first time speaking at WordCamp, so mission accomplished.

    C9-vTG0UIAAuuW9

    Photo was taken by Dzikri Aziz.

  • Damn you Waze!

    Kemarin malam, saya dan dua teman saya (Tato dan Kumiz) pergi ke Cilodong. Mampir ke kedai kopi milik Yogi. Selesai ngobrol ngarul ngidul dengan Yogi, kami berpamitan dan hendak mampir ke kedai kopi lainnya, Qimung. Tepatnya di GDC. Onay memberikan lokasi di Waze. Kita bertiga tidak ada yang mengenal medan ke Qimung. Okay, kita ikutin rute di Waze. Damn! I was wrong for trusting Waze! Jalan tikus yang kita lalui. Kita melewati jalur yang sangat sempit dan hanya bisa dilewati satu mobil. Saat itu sudah gelap. Kanan dan kiri adalah pohon bambu. Jika Anda pernah menonton film Jelankung dimana ada adegan melewati jalan sempit, sepi, dan tak berujung. Itulah yang Tato bayangkan. Cukup panjang jalan tikus ini. Kami berharap ada cahaya dari lampu motor yang lewat. Tapi itu hanya harapan sirna dibalik ketatukan. Antara begal atau…

    Jika bertemu hal itu, saya sudah membayangkan putar balik mobil yang tidak memungkinkan. Tak berapa lama kita dihapapkan dengan persimpangan. Lurus buntu, atau belok kiri dengan jalan yang tambah sempit. Waze mengarahkan ke kiri. Humm. Suasana semakin mencekam. Rumah tidak terlihat. Pohon bambu di kanan dan kiri. Sampah-sampah mulai terlihat. Hingga, kita melihat plang besar di ujung bertuliskan huruf besar semua. Tulisannya “DEMI ALLAH…” Bulu kuduk saya langsung merinding. Kita semua merujuk ke plang. Saya langsung berpikir, tanpa membaca tulisan di bawahnya, “DEMI ALLAH JANGAN LEWAT SINI!!”. Apakah ini jalan terlarang? Atau?

    Tulisan lengkapnya ternyata “DEMI ALLAH YANG BUANG SAMPAH DISINI…”. Fiuh. Setelah melalui jalan horor itu akhirnya terlihat perumahan di sebelah kiri jalan dan kita selamat melewati jalan mengerikan tersebut dan alhamdulillah bukan jalan pintas menuju Gadog, Puncak. Lesson learned. Never trust Waze!

  • Pekanbaru

    Pekanbaru, bukan pekan baru ;). Hari ini dan beberapa minggu kedepan akan saya lewati di Pekanbaru. Sekian update terkini :p.

  • Bell’s Palsy

    Saudara istri saya terkena Bell’s Palsy. Dia sudah sembuh setelah melalui terapi rutin. Bagi yang belum pernah mendengar, Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan sementara. Mungkin Anda pernah mendengar Rano Karno terkena Bell’s Palsy karena AC mobil. Atau dalam kasus saudara istri saya, dokter mengatakan karena terlalu sering berada di depan komputer. Saya tergolong sering menghabiskan waktu di depan komputer dan mendengar ini membuat saya sedikit cemas. Karena saya skeptis, saya coba googling. Saya kutip dari sumber yang kredibel, National Institue of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Berikut rangkuman Fact Sheet-nya:

    Apa itu Bell’s Palsy

    Bentuk kelumpuhan sementara di area wajah.

    Gejala Bell’s Palsy

    Gejala bervariasi. Mulai dari melemahnya otot sampai lumpuh total. Gejala ini meliputi berkedut, letih, lumpuh di sebelah atau (cukup jarang) keselurahan wajah. Gejala lainnya meliputi turunnya kelopak mata dan ujung mulut, “ngeces”, keringnya mata atau mulut, terganggunya indra perasa, dan keluarnya air mata berlebihan dari salah satu mata.

    Penyebab Bell’s Palsy

    Tidak diketahui. Beberapa ilmuwan percaya virus dari keluarga herpes adalah penyebabnya. Untuk lebih lengkap silahkan baca tautan di atas dan Wikipedia.

    Kesimpulan

    Tidak ada penyebutan AC dan berada di depan komputer dalam waktu lama menjadi penyebabnya 😉. Meskipun gejalanya terlihat seperti stroke, Bell’s Palsy bersifat sementara. Tetap pastikan untuk membawanya ke dokter ahli saraf dan ikuti terapinya secara rutin.

  • Hujan

    Sabtu. Hujan. Tidak lebat dan bukan gerimis. Hujan seperti ini adalah favorit saya. Sejuk dan menghilangkan kesan gersang di Bekasi. Ditemani Vanilla Latte panas. 😍

  • Pengalaman naik Silver Bird

    Saat itu tengah malam, 11:30 PM. Saya baru pulang dari Vienna, tiba di terminal 2 CKG. Shelter terdekat adalah Silver Bird. Karena malas dan letih, saya coba naik Silver Bird. First Time. Selama perjalanan dari bandara sampai Bekasi saya diam. Mencoba tidur. Akhirnya pas tiba di rumah. Saya lihat argo sudah 430 ribuan. Fuck. Harganya sama kayak bolak-balik ke/dari bandara naik taxi biasa atau Uber.

    Saya lihat ada card swipe machine. Saya tanya, “Bisa pakai debit atau credit card kan, Pak?”. Beliau menjawab “Lagi rusak”. Humm. Untung ada cash di dompet. Beliau menambahkan “Ada surcharge 8 ribu”. Humm. Akhirnya Saya kasih 450 ribu. Dengan berat hati. Hopefully that was my first and will be the last ride with Silver Bird  😕.